Rumput gajah menjadi salah satu hijauan pakan favorit peternak karena produktivitasnya tinggi. Namun di musim kemarau, ketersediaannya sering menurun drastis. Silase rumput gajah jadi solusi untuk menyimpan kelebihan hijauan di musim hujan agar tetap bisa dipakai saat musim kering — dan tetes tebu berperan penting dalam keberhasilan proses ini.
Kenapa Rumput Gajah Butuh Bantuan Molase saat Disilase?
Rumput gajah segar memiliki kadar gula alami yang relatif rendah dibanding jagung atau tebon. Padahal, gula adalah "bahan bakar" utama bagi bakteri asam laktat yang bertugas melakukan fermentasi silase. Tanpa tambahan sumber gula seperti molase, fermentasi bisa berjalan lambat atau bahkan gagal.
Manfaat Molase pada Silase Rumput Gajah
- Mempercepat penurunan pH: gula dari molase dikonversi cepat menjadi asam laktat, membuat kondisi silase cepat asam dan aman dari bakteri pembusuk.
- Meningkatkan nilai energi silase: hasil silase jadi lebih bernutrisi karena kandungan gula tambahan dari molase.
- Meningkatkan palatabilitas: silase dengan molase punya rasa yang lebih disukai ternak dibanding silase rumput gajah polos.
- Memperbaiki tekstur & aroma: silase yang berhasil biasanya beraroma asam segar khas, bukan bau busuk — ini indikasi fermentasi berjalan sehat.
Untuk silase rumput gajah, takaran molase yang umum dipakai berkisar 3-5% dari total berat rumput segar, dicampur merata sebelum dipadatkan ke dalam silo/drum kedap udara.
Kualitas Molase Menentukan Hasil Akhir
Sama seperti jenis silase lainnya, molase encer/oplosan berisiko menambah kadar air berlebih ke campuran, yang justru bisa memicu fermentasi tidak sehat (bau busuk, berlendir). Gunakan molase murni Brix tinggi untuk hasil silase rumput gajah yang konsisten dan aman bagi ternak.